Pembenaran adalah âdipandang benarâ di hadapan Tuhan
Setiap orang senang merasa diterima dan dikasihi. Dengan mengetahui bahwa orang lain mengasihi dan menerima kita merupakan hal yang penting bagi kesehatan dan kesejahteraan kita. Namun banyak orang Kristen sangat sadar akan kesalahan dan kelemahan mereka sehingga mereka tidak merasa bahwa Tuhan menerima mereka. Juga, fakta bahwa banyak yang tidak merasa diterima oleh keluarga mereka atau orang lain menambah keraguan mereka bahwa Tuhan dapat menerima mereka. Tujuan dari pelajaran singkat ini adalah untuk menunjukkan dari Alkitab bahwa setiap orang Kristen benar di hadapan Tuhan. Secara alkitabiah, pembenaran adalah âdipandang benarâ di hadapan Tuhan. Ketika seseorang âbenarâ, maka dia âtidak berdosaâ, âtanpa kesalahanâ, atau âtidak bersalahâ di hadapan Tuhan. Orang yang benar adalah âdipandang benarâ di hadapan Tuhan.
Satu kata, dua penggunaan yang berbeda.
Ada banyak kebingungan di antara orang-orang Kristen tentang pembenaran. Beberapa orang berkata bahwa kita dibenarkan karena perbuatan baik yang kita lakukan, dan yang lain berkata bahwa pembenaran kita diterima melalui iman yang terpisah dari perbuatan baik. Mengapa bingung? Satu alasan adalah kata âbenarâ dipakai dalam dua cara berbeda dalam Perjanjian Baru. Orang-orang Kristen harus melihat dan memahami perbedaan antara dua pemakaian kata tersebut.
1. Ada saat di dalam Perjanjian Baru ketika kata âbenarâ menunjuk kepada tindakan yang benar atau âdibenarkanâ seperti yang dipergunakan dalam Perjanjian Lama. Sebagai contoh:
2 Timotius 2:22
Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan ⊠[kebenaran, misalnya mengupayakan perbuatan baik]
2 Timotius 3:16
Segala tulisan yang diilhamkan Tuhan memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran [misalnya, dalam melakukan perbuatan baik]
Titus 3:5
Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya.
Ketiga ayat ini, dan beberapa ayat lain, memakai âkebenaranâ untuk mengartikan âmelakukan apa yang benar di hadapan Tuhan.â Kita harus melakukan yang terbaik untuk hidup dalam sikap yang benar di hadapan Tuhan karena ini memuliakan Tuhan dan Kristus. Akan tetapi, walaupun kita melakukan perbuatan kita yang terbaik, kita tetap kurang di hadapan kesempurnaan Tuhan, dan ini dapat membuat kita merasa tidak layak di hadapan Dia.
2. Cara kedua âkebenaranâ yang dipakai dalam Perjanjian Baru adalah untuk menggambarkan posisi yang dimiliki orang-orang Kristen di hadapan Tuhan karena iman kita di dalam Yesus Kristus. Pembenaran ini adalah kenyataan rohani dan sama sekali terpisah dari perbuatan yang kita lakukan. Ini adalah penggunaan kedua dari âkebenaranâ yang merupakan fokus dari pelajaran ini.
âPembenaranâ adalah posisi yang dapat diterima sepenuhnya oleh Tuhan dan diakui oleh Tuhan. Setiap orang Kristen diterima oleh Tuhan ketika dosa yang menghalangi dia dengan Tuhan dihapus oleh darah Kristus. Jadi, âpembenaranâ adalah kedudukan kita dalam pandangan Tuhan sebagai orang yang âdibenarkanâ dan âditerimaâ tanpa mempedulikan dosa-dosa, kegagalan dan kekurangan kita. âPembenaran melalui imanâ ini tidak tersedia sebelum kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, dan oleh sebab itu tidak disinggung dalam Perjanjian Lama atau keempat Injil. Pertama kali hal ini diungkapkan adalah di dalam Surat-surat Jemaat, yang ditulis secara khusus kepada orang-orang Kristen.
Pemberian pembenaran
Tidak seorang pun yang âcukup baikâ untuk memperoleh pembenaran di dalam pandangan Tuhan. Alkitab meneguhkan apa yang sudah diketahui oleh orang yang jujur: âKarena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Tuhanâ (Roma 3:23). Karena kita sekalian berdosa, maka mustahil kita âdibenarkanâ di hadapan Tuhan berdasarkan perbuatan kita sendiri. Hidup kita berlimpah dengan dosa, kelemahan, dan kegagalan di mana Alkitab berkata: âDemikianlah kita sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotorâ (Yes. 64:6). Kita sangat sering berbuat dosa sehingga jauh dari keadaan dibenarkan di hadapan Tuhan melalui perbuatan kita sendiri, tetapi kita dapat dibenarkan di hadapan-Nya melalui iman kita dalam Yesus Kristus.
Tuhan tahu bahwa tidak seorang pun sanggup memperoleh keadaan yang benar di hadapan-Nya, jadi kasih karunia-Nya dan kemurahan Tuhan memberikan pembenaran kepada kita sebagai suatu hadiah. Kitab Roma mengatakan bahwa maut masuk melalui Adam, tetapi kita memiliki pemberian pembenaran Tuhan melalui Yesus Kristus.
Roma 5:17
Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.
Puji Tuhan untuk anugerah kebenaran-Nya yang luar biasa! Puji Tuan Yesus Kristus yang mati untuk membayar dosa-dosa kita sehingga dosa-dosa itu tidak dibebankan kepada kita. Dosa-dosa kitalah yang membuat kita âtidak benarâ di hadapan Tuhan, tetapi Yesus Kristus membayar hukuman bagi dosa-dosa kita, membuat kita sebagai orang yang benar di hadapan Tuhan.
Alkitab menyatakan kebenaran kita.
Tuhan ingin kita merasa yakin bahwa kita benar di dalam pandangan-Nya, maka hal ini dinyatakan dengan sangat jelas dalam Alkitab.
Roma 3:20-25a
(20) Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Tuhan oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. (21) Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Tuhan telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, (22) yaitu kebenaran Tuhan karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. (23) Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Tuhan, (24) dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. (25) Kristus Yesus telah ditentukan Tuhan menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya...
Bagian ayat ini sangat penting sehingga kita perlu mempelajarinya ayat demi ayat.
Ayat 20: Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Tuhan oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.
Ayat ini menyatakan bahwa kita tidak dapat dibenarkan di hadapan Tuhan melalui perbuatan, misalnya, berupaya menjalankan Hukum Taurat dan semua perintah-perintahnya. Sebaliknya, ayat ini berkata bahwa dengan mengetahui apa yang dituntut oleh Tuhan dari kita hanya membuat kita makin sadar bahwa kita telah kehilangan kemuliaan Tuhan. Dengan sangat jelas Alkitab menyatakan bahwa jika kita dapat menjadi orang benar melalui perbuatan kita sendiri, maka Kristus tidak perlu mati di kayu salib: âSebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus!â (Gal. 2:21b).
Saya percaya bahwa ayat duapuluh memuat inti problem yang dihadapi oleh sebagian besar orang Kristen sehubungan dengan pembenaran di hadapan Tuhan. Kita sekalian dibesarkan di dalam dunia di mana, agar diterima, kita harus melakukan hal-hal yang benar dan menjalankan peraturan, misalnya âmeneliti hukumâ. Agar diterima oleh orang tua kita, kita harus mentaati peraturan, agar diterima di sekolah kita harus mentaati peraturan, agar diterima di tempat kerja kita, kita harus mentaati peraturan, agar diterima oleh sahabat-sahabat kita, kita harus mentaati peraturan (meskipun biasanya peraturan itu bukan peraturan yang diucapkan, tetapi peraturan itu ada).
Hal ini melekat dalam keberadaan kita bahwa agar dapat diterima kita harus menuruti suatu standar tertentu. Akan tetapi peraturan Tuhan sangat murni, sangat kudus dan sangat adil, dan kita sangat dilemahkan oleh sifat dosa kita, keinginan daging, dan kelemahan manusia, sehingga kita tidak dapat mentaati peraturan Tuhan. Secara terus-menerus kita kehilangan kemuliaan Tuhan. Sebagai akibatnya, naluri kita mengambil alih dan berkata bahwa kita tidak dapat diterima, dan kemudian itulah yang kita rasakanâtidak dikasihi dan tidak diterima. Akan tetapi, Tuhan mengatakan kepada kita dengan sangat keras bahwa kita tidak akan menjadi benar atau merasa benar melalui mentaati peraturan: âtidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Tuhan oleh karena melakukan hukum Taurat.â Kita perlu mengubah pikiran kita mengenai ini dan saat ini bahwa fakta kita telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Tuhan tidak membuat kita tidak benar.
Ayat 21: Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Tuhan telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi,
Puji Tuhan! Kita tidak dapat mentaati semua peraturan dan hukum Tuhan, dan syukurlah, kita tidak perlu mentaati semua peraturan itu agar kita dapat dibenarkan di hadapan Dia. Pembenaran terpisah dari perbuatan yang sudah disinggung. Hukum Taurat mengajarkan bahwa seseorang dapat dipandang benar jika dia mentaati semua Hukum (Ul. 6:25). Masalahnya adalah, tidak seorang pun dapat melakukannya. Orang-orang Yahudi tidak dapat mentaati semua Hukum Taurat selama masa Perjanjian Lama, dan orang-orang Kristen tidak dapat mentaati semua peraturan Tuhan sekarang ini. Mengapa? Karena, seperti yang dikatakan Roma 8:3, upaya kita âtak berdaya oleh dagingâ. Meskipun kita tidak dapat dibenarkan di hadapan Tuhan melalui perbuatan baik kita, pembenaran dari Tuhan sudah tersedia bagi kita. Bagaimana kita dapat memperolehnya? Ayat 22 menyatakannya.
Ayat 22: yaitu kebenaran Tuhan karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.
Ayat ini berkata kepada kita bagaimana sesungguhnya kita menerima pemberian pembenaran Tuhanâmelalui iman dalam Yesus Kristus. Sebagai orang berdosa, kita sekalian layak menerima hukuman dosa dari Tuhan yang adil, karena Alkitab berkata, âUpah dosa ialah mautâ (Roma 6:23a). Jika kita layak menerima kematian, bagaimana kita dapat menerima hidup yang kekal dan pembenaran? Roma 6:23 menutup dengan berkata, âkarunia Tuhan ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.â Ketika kita beriman kepada Yesus Kristus, kita menerima pemberian dari Tuhanâdosa kita lunas dibayar dan kita menerima hidup kekal dan pembenaran di hadapan Tuhan. Hanya ketika dosa kita dibayar lunas, kita memiliki âhutang yang tidak dapat dibayarâ dengan Tuhan, tetapi ketika Yesus Kristus membayar dosa kita, kita bersih di hadapan Tuhan, dan kita âbenarâ di hadapan-Nya.
Kita menjadi benar di hadapan Tuhan melalui iman, jadi penting bahwa kita mengerti dengan sungguh-sungguh apakah âimanâ itu. Secara alkitabiah, âimanâ berarti âpercaya.â Ketika kita percaya bahwa Yesus Kristus mati bagi dosa-dosa kita dan bahwa Tuhan membangkitkan Dia dari kematian, kita diselamatkan dan menerima pemberian pembenaran Tuhan. Tuhan ingin semua manusia diselamatkan (1 Tim. 2:4), sehingga Dia sudah membuat keselamatan mudah diperoleh dan memberikan instruksi yang jelas tentang bagaimana diselamatkan. Salah satu ayat yang jelas yang berkata tentang caranya terdapat dalam Roma 10:9.
Roma 10:9
Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Tuhan telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.
Yesus membayar dosa-dosa setiap orang, tetapi hanya mereka yang menerima pembayaran itu yang dibenarkan. Siapa saja dapat menolak sebuah pemberian, dan orang dapat menolak pemberian keselamatan dan pembenaran cuma-cuma yang disediakan Tuhan bagi mereka melalui menolak beriman kepada Kristus. Ketika seseorang percaya bahwa Yesus adalah Tuannya yang hidup, dia memperoleh pemberian keselamatan Tuhan dan pemberian pembenaran-Nya.
Ayat 23: Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Tuhan,
Ayat ini pendek dan lugas. Kita sekalian sudah berdosa, dan kita sekalian kurang memenuhi standar Tuhan. Kita tidak akan pernah dapat menjadi sangat baik sehingga kita layak memperoleh pembenaran melalui perbuatan kita. Tidak, itu adalah pemberian dari Tuhan.
Ayat 24: dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.
Ayat ini memuat kebenaran penting. Setiap orang Kristen âdibenarkanâ dalam pandangan Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, kata âbenarâ dan âdibenarkanâ berasal dari akar kata Yunani yang sama. Dibenarkan dan pembenaran adalah konsep yang berkaitan. âDibenarkanâ (dikaioo) adalah proses hukum yang membawa kepada keadaan âbenarâ (dikaios). Seseorang dibenarkan (dinyatakan tidak bersalah) di dalam ruang sidang dan kemudian, setelah persidangan, berdiri di luar ruang sidang sebagai orang yang benar (bebas dari kesalahan) dalam pandangan hukum.
Dalam pengadilan Tuhan, kita harus menerima apa yang seharusnya kita terima, hukuman maut. Akan tetapi, di pengadilan kita mengerti bahwa hukuman itu sudah dilunasi oleh orang lainâYesus Kristus. Jadi kita dibenarkan dalam pengadilan Tuhan, dan berdiri sebagai orang benar di hadapan Dia. The Amplified Bible menjelaskan secara terperinci arti kata âdibenarkanâ dalam ayat ini, dan berkata bahwa kita âdibenarkan dan dibuat benar dan dalam keadaan benar di hadapan Tuhan.â Pembenaran yang tidak dapat kita lakukan, diberikan Tuhan kepada kita.
Ayat 24 juga berkata bahwa kita dianugerahkan pemberian pembenaran itu âdengan cuma-cumaâ. Bagaimanakah pemberian yang luar biasa ini dapat diperoleh dengan cuma-cuma? Sederhana. Ini gratis karena sudah dibayar lunas oleh orang lainâYesus Kristus. Keselamatan dan pembenaran gratis diberikan kepada kita karena sudah âdibayarâ dengan darah Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 20:28).
Tuhan memberi pemberian keselamatan dan pemberian pembenaran karena anugerah-Nya. âAnugerahâ adalah konsep yang perlu dimengerti oleh setiap orang Kristen. âAnugerahâ berarti memberikan hadiah kepada orang yang tidak layak menerimanya. Sebagai orang Kristen, kita harus menunjukkan anugerah kepada orang lain, yaitu, kita harus menyampaikan perkataan yang baik dan perbuatan yang baik kepada orang-orang yang tidak layak menerimanya. Alkitab berkata bahwa orang-orang Kristen harus memiliki anugerah dalam hati mereka dan dalam perkataan mereka (Kol. 3:16; 4:6). Sama seperti kita menyampaikan kata-kata dan pemberian yang baik kepada orang yang tidak layak menerimanya, Tuhan memberikan anugerah-Nya kepada kita.
Kita tidak layak menerima anugerah Tuhanâoleh karena itulah disebut dengan âanugerah.â Jika Anda merasa Anda tidak layak menerima anugerah Tuhan, Anda benar. Kita adalah orang berdosa dan âmusuhâ Tuhan (Roma 5:10), tetapi hal itu tidak menghalangi Dia untuk mengasihi kita, jadi, tanpa kelayakan kita selain murka yang pantas diterima, Tuhan memberikan perkenanan-Nya yang tidak layak kita terimaâanugerah-Nya. Pemberian anugerah Tuhan yang agung mencakup pembenaran di hadapan-Nya dan kehidupan kekal bersama-Nya.
Ayat 24 juga menyinggung âpenebusanâ, yang berarti âkemerdekaan yang diperoleh ketika sebuah tebusan lunas dibayar.â Orang Kristen sudah dimerdekakan dari hukuman dosa. Sebelum menjadi seorang Kristen, kita berada dalam perbudakan kepada dosa, sebuah pembayaran harus dilakukan, dan Yesus Kristus membayar lunas.
Jika kita menghilangkan âperbendaharaan kata alkitabiahâ dan meringkas ayat 24 dalam bahasa Inggris sehari-hari, ayat itu akan terbaca seperti ini: â[Kita orang Kristen] dibenarkan di hadapan Tuhan melalui sebuah pemberian cuma-cuma. Meskipun kita tidak layak menerimanya, Yesus Kristus membayar tebusan yang memerdekakan kita dari konsekuensi dosa kita.â
Ayat 25a: Kristus Yesus telah ditentukan Tuhan menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya...
Tuhan adil, dan meskipun Dia mengasihi manusia, Dia tidak dapat begitu saja âmenyingkirkanâ konsekuensi dosa. Sebuah pembayaran harus dilakukan. Orang tua mengerti hal ini. Jika anak Anda mencuri sepotong kue dan kemudian berbohong tentang itu, meskipun anak itu adalah anak kesayangan Anda, keadilan menuntut pembayaran. Mungkin hal itu sesederhana seperti sebuah âomelanâ atau âistirahatâ, tetapi keadilan menuntut penghakiman dan sebuah hukuman. Berbuat adil bukan berarti membiarkan dosa tidak dihukum, dan Tuhan, sesuai dengan sifat-Nya, harus bertindak adil. Karena âupah dosa ialah mautâ (Roma 6:23), kematian harus dipandang sebagai hukuman. Dan benar! Yesus Kristus mati, dan di dalam anugerah-Nya, Tuhan menentukan kematian Yesus sebagai pengganti kematian yang layak kita terima. Yesus adalah korban tebusan bagi kita.
Orang-orang Yahudi dalam Perjanjian Lama mengerti korban tebusan, yang merupakan bagian penting dalam kehidupan Yahudi. Seorang bangsa Israel yang berbuat dosa, membawa seekor binatang sebagai korban, dan korban itu menjadi tebusan bagi orang berdosa itu. âTebusanâ adalah kata yang perlu dimengerti oleh setiap orang Kristen. Kata ini [atonement] terdiri dari dua kata [âatâ dan âoneâ]. Dalam Perjanjian Lama, kematian binatang membawa orang berdosa itu dan Tuhan menjadi satu kembali [âat-oneâ]. Yesus Kristus adalah âtebusanâ bagi dosa kita. Dia adalah korban yang membawa Tuhan dan kita menjadi satu [âat-oneâ]. Sekarang setiap orang Kristen âmenjadi satuâ dengan Tuhan. Ini adalah kenyataan rohani yang benar meskipun ketika kita merasa tidak âbersatuâ dengan Tuhan. Keagungan perbuatan Kristus adalah bahwa meskipun kita merasa terpisah dari Tuhan, Dia tidak jauh dari kita. Dia menjadi satu dengan kita dan tidak akan pernah meninggalkan kita atau menyia-nyiakan kita.
Pembenaran kita di hadapan Tuhan adalah konsep yang sangat penting, jadi terdapat banyak sekali ayat dalam Perjanjian Baru yang berbicara tentang itu. Beberapa di antaranya:
Roma 10:4
Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.
1 Korintus 1:30
Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Tuhan telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.
2 Korintus 5:21
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Tuhan.
Kita tidak layak menerima pembenaran yang sudah diberikan Tuhan kepada kita, tetapi kita harus percaya bahwa kita memiliki kebenaran itu dan menerima posisi kita yang benar di hadapan Tuhan.
Pembenaran bukanlah sebuah perasaan.
Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa orang-orang Kristen benar di hadapan Tuhan, jadi mengapa begitu banyak orang mengalami kesulitan dalam menerima kenyataan bahwa mereka benar? Alasan utama adalah bahwa sebagian besar orang Kristen percaya kepada perasaan mereka daripada kepada apa yang dikatakan Firman Tuhan. Kita sekalian berdosa, jadi sudah merupakan hal yang biasa jika âmerasaâ tidak benar dalam pandangan Tuhan. Dosa dan kelemahan kita menghasilkan perasaan bersalah dan malu, dan itu baik karena perasaan bersalah kita sering mendorong kita untuk berhenti berbuat dosa. Namun sayang, perasaan bersalah yang sama membuat kita merasa tidak layak diterima oleh Tuhan. Akan tetapi, meskipun ketika kita berbuat dosa, kita benar dalam pandangan Tuhan karena perbuatan Yesus Kristus. Dosa kita dan perasaan bersalah sungguh nyata, demikian pula pembenaran Tuhan yang sudah diberikan kepada kita.
Beberapa orang Kristen mengajarkan bahwa pembenaran kita adalah kemampuan untuk berdiri di hadapan Tuhan tanpa perasaan bersalah, berdosa atau lemah. Dengan kata lain, orang-orang Kristen itu mengajarkan bahwa seorang yang sungguh-sungguh benar seharusnya tidak boleh mempunyai perasaan dosa dan rasa malu dalam hidupnya. Itu tidak benar, dan menyimpang dari pokok bahwa pembenaran kita adalah pemberian dari Tuhan. Tentu saja benar bahwa jika kita melakukan perbuatan benar kita tidak akan merasa bersalah terhadap perbuatan itu. Masalahnya adalah kita sekalian berdosa, dan melakukan hal yang tidak benar. Syukurlah, kitab Roma berkata dengan sangat jelas: kita tidak dibenarkan karena kita melakukan apa yang diperintahkan Tuhan (tidak ada seorang pun dapat dibenarkan dalam pandangan Tuhan melalui melakukan semua perintah; Roma 3:20), tetapi sebaliknya kita dibenarkan âterpisah dariâ melakukan semua perintah (Roma 3:21). Pembenaran kita terjadi, bukan melalui apa yang kita perbuat, tetapi karena kita memiliki iman dalam Kristus [1]. Kita sekalian tidak memenuhi standar Tuhan, dan merupakan hal yang alami bahwa dosa dan kelemahan kita menghasilkan perasaan tidak benar dan tidak diterima oleh Tuhan.
Kita harus menyadari bahwa âperasaanâ dan pembenaran yang diberikan Tuhan kepada kita sama sekali tidak berhubungan. Orang-orang Kristen dibenarkan meskipun ketika kita tidak âmerasaâ benar. Sebaliknya, mungkin kita âmerasa baikâ tentang sesuatu ketika hal itu tidak baik atau tidak kudus. Alkitab (dan pengalaman) mengajar kita bahwa kita sekalian berdosa, dan hanya ada satu cara seseorang dapat berdosa terhadap Tuhan dan tidak memiliki perasaan bersalah, malu atau perbuatan salah jika dia berdosa dalam ketidakpedulian, atau jika dia memiliki hati nurani seperti yang dikatakan Alkitab sebagai âmemakai cap merekaâ (1 Tim. 4:2). Sayang sekali, itulah yang terjadi dengan banyak orang. Penjahat-penjahat yang berhati keras terkenal karena hati nurani mereka yang keras dan tidak berperasaan, dan mereka dapat melakukan setiap kejahatan dan hal-hal yang menyakitkan tanpa merasa malu atau menyesal.
Sayangnya, ada orang-orang Kristen yang memiliki hati nurani yang keras dan tidak berperasaan dalam area tertentu, dan tidak lagi merasa bersalah atau malu ketika mereka berbuat dosa dalam area itu. Akan tetapi, mereka tidak dibenarkan semata-mata karena mereka tidak âmerasa tidak benar.â Syukurlah, inilah yang hampir selalu terjadi di mana hati nurani seseorang menjadi keras hanya terhadap beberapa perilaku tertentu. Misalnya, seorang Kristen yang sudah begitu terikat dalam pornografi di mana dia tidak lagi merasa bersalah atau malu terhadap hal itu, mungkin merasa sangat bersalah jika dia mencuri sesuatu. Tuhan adalah Tuhan penuh anugerah dan berkemurahan, dan banyak orang dengan hati nurani yang keras sudah dipulihkan menjadi utuh dan lemah lembut melalui ketaatan dan doa. Pelajaran yang perlu dipetik oleh setiap orang Kristen adalah pembenaran yang diberikan Tuhan sama sekali tidak berkaitan dengan perasaan kita. Kadang kala kita merasa tidak benar meskipun kita benar di hadapan Tuhan, dan mungkin kita merasa baik terhadap diri sendiri sementara melakukan hal-hal yang tidak kudus.
Tampaknya bertolak belakang bahwa meskipun ketika kita berdosa dalam daging, kita masih tetap benar di hadapan Tuhan. Hal itu karena pembenaran adalah pemberian anugerah Tuhan yang luar biasa, dan suatu kenyataan rohani. Mungkin Anda tidak merasa bersatu dengan Tuhan, tetapi jika Anda adalah orang Kristen, maka Anda bersatu dengan Tuhan. Alkitab berkata orang-orang Kristen harus hidup oleh iman dan bukan oleh âmelihatâ (2 Kor. 5:7). Itu berarti kita harus hidup oleh percaya kepada apa yang dikatakan Tuhan dan bukan oleh apa yang dilihat atau dirasakan. Kita harus percaya kepada apa yang dikatakan Tuhan adalah benar, dan bahwa semua perasaan yang bertentangan dengan itu adalah dusta. Ingatkah cerita Adam dan Hawa? Hawa âmerasaâ bahwa tidak apa-apa jika memakan buah yang dilarang oleh Tuhan, dan dia mengabaikan apa yang sudah diperintahkan Tuhan. Akibatnya malapetaka terjadi. Kita sekalian perlu belajar dari kesalahan Adam dan Hawa, dan menyadari bahwa tidak peduli bagaimana perasaan kita, apa yang dikatakan Tuhan adalah Kebenaran. Mungkin kita merasa bahwa Kristus tidak akan pernah datang kembali, tetapi Dia akan datang kembali. Mungkin kita merasa seakan-akan kejahatan di dalam dunia ini tidak akan pernah disingkirkan, tetapi kejahatan akan dihancurkan. Kita sebagai orang-orang Kristen harus belajar memandang diri kita sendiri seperti cara Tuhan memandang kita.
Jika Anda merasa tidak benar, kembalilah kepada Firman Tuhan, pelajarilah apa yang dikatakan Firman Tuhan, dan berdoalah untuk memperoleh pengertian yang jelas tentang pemberian pembenaran yang sudah diberikan kepada Anda dengan cuma-cuma. Lalu tawanlah pikiran Anda dalam hal ketidakbenaran (2 Kor. 10:5), dan katakan kepada diri sendiri bahwa Anda tidak akan ditipu oleh perasaan Anda, tetapi Anda akan percaya kepada Firman Tuhan. Katakanlah, âSaya benar di hadapan Tuhanâ berulang kali, ratusan kali jika perlu. Ucapkan itu dengan suara keras jika perlu. Perasaan ketidakbenaran Anda berasal dari dalam diri Anda dan dari pengalaman Anda sebelumnya. Mungkin diperlukan banyak upaya untuk mengubah perasaan itu, tetapi Tuhan akan menolong Anda. Ingatlah: tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Meskipun kita kurang dari sasaran kesempurnaan Tuhan bagi kita, Tuhan sudah memberikan anugerah (perkenanan yang tidak layak) kepada kita dan mengutus Yesus Kristus untuk mati agar membayar hukuman dosa kita. Sekarang, âdibeli dan dibayar lunas,â setiap kita berdiri di hadapan Tuhan sebagai orang yang benar, bersatu dengan Dia.
If you like what we are doing and you would like to help us continue to spread the Gospel all over the globe, please consider sowing into our ministry.